Tuesday, 16 June 2009

Bagaimana Menulis Feature?

MENULIS FEATURE, HARUS DIAWALI MENCOBA

Feature, secara sederhana sering diartikan sebagai berita kisah. Ada pula yang menyebut tulisan kreatif. Model penulisan berita seperti itu banyak dijumpai dalam surat kabar, dan terutama tabloid atau majalah. Ciri sederhana feature adalah gaya tuangannya yang lebih longgar dibanding penulisan straight-news. Bahasanya tidak kaku, adakalanya bernuansa sastra.

Ada beberapa jenis feature, diantaranya ; bright, sidebar, profile, project profile, news feature, service feature, interview, string of pearl, narative feature, dan comprehensive news feature,.

Comprehensive news feature sendiri adalah penulisan feature dengan bahan kajian mendalam, dengan dukungan investigasi. Investigasi bisa dari lapangan, riset pustaka maupun wawancara pakar atau sumber berita yang punya kaitan langsung (dekat dengan persoalan).

Setiap tulisan feature yang baik mesti mengandung fokus, anecdotes, drama, purpose, organization, detail. Fokus adalah sumbu panjaran alur cerita. Feature yang bagus punya alur cerita yang terfokus jelas dan terjaga, tidak melenceng kesana-kemari. Anecdotes adalah penulisan tuturan tentang pengalaman sumber berita atau saksi peristiwa berkaitan dengan dengan pokok soal yang hendak ditulis.

Anecdotes punya fungsi memperkuat dan menghidupkan alur serta tema tulisan. Pencantumannya dalam tulisan bisa berupa tuturan langsung maupun tak langsung. Drama, adalah keruntutan penjelasan alur cerita. Purpose; adalah tujuan penulisan. Apa esensi bagi pembaca.Untuk menjawab pertanyaan ‘what is the significance of the feature (article)’.

Organization adalah koherensi atau logika cerita. Termasuk dalam hal ini pemilihan nara sumber serta ketepatan penempatan tuturan atau statement narasumber. Terakhir adalah detail, adalah ketelitian atau presisi dalam merinci, menuliskan, dan mengintepretasikan data atau fakta.

Apa bekal untuk menulis feature? Sebagaimana menulis berita straight-news, menulis feature butuh kemampuan mengendus berita. Pertama, jadilah pendengar, pengamat, dan pencatat yang baik. Ingat, jangan mendebat narasumber ketika narasumber salah menjawab pertanyaan. Untuk menghindari kesalahan jawaban dari narasumber, usahakan dengan pertanyaan ulang atau penjelasan halus.

Kedua, kumpulkan data atau fakta sebanyak mungkin. Tentukan fokus penulisan dengan pilihan angle yang paling menarik. Yang khas dan tidak membebek. Kemudian seleksi data sesuai dengan pilihan angle atau fokus yang akan kita tulis.

Asah kemampuan menuangkan ide dengan presisi bahasa segar, pilihan diksi dan kalimat setepat mungkin. Ingat, menulis feature jauh berbeda dengan menulis skripsi. Pilih bahasa ringkas, jelas dan tidak kaku. Perkaya kemampuan kosakata. Hal ini bisa diasah lewat membaca bahan bacaan apapun.

Sesudah bekal cukup, pilih format penulisan. Secara umum format tulisan feature tak jauh berbeda dengan straight-news. Terdiri dari judul, lead, isi, penjelasan isi, dan ending. Kelima unsur itu harus memiliki korelasi, saling mendukung. Judul sebaiknya ringkas, menarik, dan mewakili tema tulisan.

Independent edisi 2001 yang mengupas tentang derita masyarakat Aceh, misalnya, menulis dengan judul; Aceh, Sejarahmu Tertulis Dengan Darah. Kemudian, Tempo pernah membuat laporan investigasi Aceh dengan judul: Yang Berduka di Pangkuan Pertiwi. Kompas juga pernah menurunkan feature tentang gagalnya perundingan damai Israel – Palestina lewat judul Dan Kuncup Zaitun pun Enggan Bersemi. Begitulah, judul punya andil besar dalam menarik minat baca.

Jika sebuah tulisan diibaratkan seorang gadis, judul adalah mahkota atau rambut, lead adalah wajah. Wajah cantik, umumnya punya daya pikat, menumbuhkan kesan pertama. Ingat bahasa iklan: kesan pertama begitu mempesona, selanjutnya terserah Anda. Makin bagus lead, makin merangsang pembaca untuk menelusuri ‘lekuk-lekuk tulisan selanjutnya’.

Setelah judul, buatlah lead yang juga menarik. Lead atau pembuka, juga harus singkat padat dan sesuai tema. Lead punya fungsi sebagai magnet awal sebuah tulisan. Artinya, daya tarik tulisan juga sangat bergantung pada kemampuan jurnalis menyajikan lead. Penguasaaan bahasa, termasuk peribahasa maupun majas sangat mendukung pembuatan lead yang bagus.

Setelah lead, yang tak kalah pentingnya adalah isi. Bagian ini merupakan substansi. Kalau lead ibarat wajah, isi adalah citra, kualitas sekaligus eksistensi ‘tubuh’ itu sendiri. Wajah cantik, tidak akan berarti apa-apa tanpa kualitas dalam diri, itu ibaratnya.

Begitu pula halnya sebuah news-feature, kualitasnya ditentukan isi. Kualitas (presisi) data, fakta, kredibilitas narasumber dan cara penyajian menopang kualitas tulisan fature. Demikian pula halnya penjelasan isi, bermanfaat untuk memuluskan pemahaman pembaca.

Ending, nah ini yang juga tak kalah besar peranannya dalam membangun feature. Bagian ini, jika dibuat secara bagus akan mampu memberikan jawaban pada purpose, pada tujuan ditulisnya feature. Empati penulis atau jurnalis bisa dititipkan pada bagian ini. Ending yang bagus, acapkali bisa membangkitkan rasa penasaran pembaca.

Akhirnya, untuk bisa menulis feature tak cukup hanya dengan pelatihan, apalagi makalah yang super singkat ini. Butuh proses panjang dan yang paling penting adalah terus mencoba. Pelatihan hanyalah medium pemacu semangat. Tanpa mencoba dan mencoba, kemampuan menulis tidak akan pernah terwujud. Selamat mencoba.


LAPORAN INVESTIGASI


Investigative dan interpretive reporting masuk dalam kategori comprehensive reporting. Ken Metzler dalam buku Newsgathering mendefinisikan Investigative reporting adalah comprehensive reporting in depth, usually on wrong doing. Sedangkan interpretive reporting is a reporting that seeks meaning beyond superficial reports of events.

Model reportase semacam itu pertamakali muncul di Amerika pada pertengahan tahun 60-an. Kemunculannya dilatari keprihatinan atas kemerosotan citra jurnalis, yang waktu itu cenderung mengumbar berita sensasi. Faktor lain yang juga mendasari adalah kondisi sosial politik yang tidak sehat; korupsi dan kolusi serta kelicikan para pengusaha merajalela hampir di setiap meja birokrasi.

November 1969 muncul berita investigasi yang cukup menggegerkan kalangan militer AS. Isinya mengungkap kejahatan tentara AS di Vietnam. Pembantaian ribuan warga sipil vietnam oleh serdadu Amerika itu dikupas tuntas oleh Seymour Herst, mantan reporter Associated Press, dengan gaya penulisan elegan, jauh dari sensasi. Tahun 1973, Herst juga membuat berita cemerlang yang mengungkap upaya menutup skandal Watergate yang melibatkan Presiden Nixon.

Herst, yang saat itu bekerja untuk New York Times, berhasil mengorek keterangan dari empat saksi yang dibayar untuk melakukan pekerjaan itu. Prestasi Herst terulang lagi ketika dia kembali sukses mengungkap skandal CIA yang secara melanggar hukum memata-matai warga negara AS sendiri di dalam negeri. Tulisan terakhir ini dibuat pada bulan Desember 1974.

Prestasi gemilang Herst memacu semangat jurnalis lainnya. Skandal Watergate menjadi lahan berita empuk mereka. Lengsernya Nixon dari kursi kepresidenan pada tahun 1974, tak lepas dari berita investigasi yang dibuat Robert Woodward dan Carl Bernstein. Keduanya jurnalis untuk Washington Post. Keberhasilan mengungkap kasus tersembunyi itulah yang kemudian berhasil mendongkrak citra jurnalis (investigator).

Itulah sekilas gambaran munculnya trend reportase model investigasi. Disitu tampak, pada umumnya, kasus-kasus yang digarap memiliki eskalasi besar. Perlu dicatat, bahwa dalam melakukan reportase investigasi, mereka juga melibatkan kemampuan interpretive reporting. Dan tentu saja tingkat kesulitannya pun besar pula. Di Indonesia, greget reportase investigasi maupun interpretive masih rendah, meskipun peristiwa atau kasus besar melimpah. Boleh jadi karena kultur politik masa Orde Baru hingga masa transisi ini, tidak atau kurang menunjang kemampuan untuk melakukan itu.

Yang menarik, selama ini kerja investigasi kasus-kasus besar di negeri kita justru dilakukan oleh lembaga atau individu non-jurnalis. Kontras misalnya, cukup dikenal prestasinya dalam melakukan investigasi terhadap korban kekerasan. Juga ICW yang mengkhususkan pada kasus-kasus korupsi. Ini mestinya patut menjadi cermin bagi para jurnalis. Ingat kasus penculikan aktivis dan kasus korupsi yang melibatkan para petinggi pemerintah, kedua lembaga non-pers itulah yang paling besar andilnya mengungkap.

Kemudian, apa dan bagaimana investigative maupun interpretive reporting itu? Seperti terurai di awal tulisan ini, investigative reporting atau reportase investigasi adalah reportase atau penggalian berita mendalam dengan mencari sekomplet mungkin sumber berita. Biasanya, kasus yang diinvestigasi adalah kasus tersembunyi atau yang sengaja disembunyikan.

Dalam melakukan reportase seperti itu, informasi atau data tidak sekadar didapat, melainkan harus diburu, tidak lagi sekadar di-cek dan ri-cek, melainkan di-multicek. Kemudian dirangkai, disusun, dicocok-cocokkan sampai membentuk gambaran cerita utuh dari peristiwa tersembunyi. Dalam proses pencocokan dan penarikan simpul gambaran peristiwa itulah kemampuan interpretive diperlukan.

Ada tiga hal yang perlu dipegang teguh seorang investigator maupun interpretor, yakni ‘moral’, daya endus atau kecerdasan sosial, dan teknik reportase. Yang dimaksud moral disini adalah stamina batin : kesabaran tinggi, keyakinan, dan realisme dalam memilih sumber, memburu informasi, menimbang benar tidaknya informasi, menulis berita, sampai pada memperkirakan dampak tulisannya (David Anderson, dalam Investigative Reporting – sebagaimana dikutip Parakitri Simbolon).

Kemudian yang dimaksud daya endus adalah kemampuan menggali berita dan bukan mendapatkan berita. Karena harus menggali hal-hal tersembunyi,‘kecerdasan sosial’ ini sangat dibutuhkan dan akan menentukan hasil akhirnya. Dengan kemampuan endus, peristiwa yang bakal terjadi dapat tertangkap melalui fakta-fakta yang ada (interpretive). Kemampuan mengendus berita juga termasuk dalam hal mencari narasumber yang tepat dan menuliskannya.

Yang terakhir adalah penguasaan teknik investigasi. Menyangkut teknis, sebenarnya banyak macamnya. Namun secara garis besar kami cantumkan 9 macam :

  • Pertama, menjaring dan memanfaatkan informasi sekecil apapun. Disini ketrampilan mencatat dan mendata informasi diperlukan. Baik yang didengar maupun dilihat.

  • Kedua, menghubungi sumber awal sebanyak-banyaknya.

  • Ketiga, menimbang nilai berita. Pilih data atau informasi mana yang sesuai dan akurat dengan fenomena atau kasus yang tengah diinvestigasi.

  • Keempat, menentukan sumber utama informasi. Pilih orang atau narasumber yang kapable dan dekat kaitannya dengan kasus.

  • Kelima, terus mendekati sumber utama. Usahakan dengan cara apapun agar selalu dekat dengan sumber informasi utama ini. Pantau terus perkembangan informasinya.

  • Keenam, sabar dan jangan mendebat sumber, meskipun sumber tersebut salah komentar. Jadilah pendengar setia dan penanya yang empatis.

  • Ketujuh, jujur dan terus terang. Ketika melakukan investigasi, kadang dilematis untuk berkata jujur dan terus terang maksud kita melakukan wawancara dengan sumber. Tapi sikap tersebut sangat bermanfaat untuk menghindari kesalahpahaman akibat pemberitaan.

  • Kedelapan, wawancara dari hati ke hati. Ciptakan suasana rileks namun mendengarkan dengan penuh perhatian.

  • Kesembilan, menulis kebenaran fakta yang diperoleh.

Akhirnya, perlu diingat bahwa melakukan investigasi adalah pekerjaan praktis. Maksudnya, kemampuan untuk itu tak bisa dijejalkan dengan teori. Pelatihan semacam ini hanyalah berfungsi menggugah atau malah sekadar menyentuh motivasi naluri jurnalistik. Hasil akhirnya hanya akan maksimal dicapai dengan cara mencoba-dan mencoba terus.

Selamat mencoba

Gelombang Baru Neo-Liberalisme

Salam Pemuda !!!

Halusnya dan semakin sistematisnya pola penindasan rakyat hari ini semakin menuntut kita untuk dapat lebih mencerdasi penyelenggaraan struktur penindasan modal dan Negara yang tengah berlangsung semakin efektif hingga detik ini. Gagalnya transisi demokrasi paska Reformasi 98, ternyata juga berimplikasi terhadap memburuknya kenyataan mode produksi sosial ekonomi rakyat Indonesia. Meningkatnya angka kemiskinan, tingkat pengangguran, PHK massal ternyata malah dijawab dengan fenomena tingginya praktek-praktek liberalisasi, privatisasi dan deregulasi di semua sektor yang justru malah diamini oleh sekian instrumen kebijakan legal dari pemerintahan pusat sampai daerah hanya demi kepentingan segelintir kapitalis birokratik dan kepentingan ekspansi modal internasional di Indonesia. Ironisnya, kini dengan slogan pertumbuhan perekonomian Indonesia, pemerintah secara terang-terangan dan percaya diri justru mengundang investasi asing sebanyak-banyaknya masuk dan di sisi lain semakin memarjinalkan sektor kerakyatan serta menafikkan hak-hak warga negaranya sendiri.

Gagalnya Neoliberalisme untuk mewujudkan kesejahteraan dunia, semakin terlihat dengan rapuhnya perekonomian Amerika Serikat paska terjadinya Krisis Finansial yang berujung kemudian pada krisis global yang melanda negara-negara di belahan dunia lainnya. Gulung tikarnya beberapa perusahaan besar di AS secara otomatis melahirkan PHK massal di negara adidaya itu. Optimisme masyarakat AS dengan terpilihnya Obama sebagai Presiden AS ternyata justru mendorong konsolidasi negara-negara maju yang tergabung dalam G20 untuk mereformasi dan lebih memaksimalkan kembali peranan Bank Dunia, IMF dan ADB. Tragisnya, seharusnya destabilisasi perekonomian negara-negara maju ini bisa dijadikan momentum kebangkitan nasional guna merenegosiasi tatanan ekonomi kapitalistik yang menghisap sumber daya nasional sampai detik ini, namun yang terjadi Presiden SBY malah menyambut gembira ketika diundang sebagai peserta Pertemuan G20 di London guna memastikan adanya komitmen penjadwalan hutang baru bagi Indonesia. Dan posisi ketergantungan republik ini terhadap bantuan hutang luar negri semakin ditegaskan kembali dengan adanya Konferensi Tingkat Tinggi ADB di Nusa Dua Bali pada bulan mei yang lalu.

Sedari awal, kepentingan dan kebutuhan nasional juga tidak pernah dijadikan acuan bagi pemerintah selaku penyelenggara negara untuk membebaskan rakyat dari krisis yang tak kunjung reda ini. Pemerintah semakin menggambarkan posisinya sebagai institusi penjaga keberlangsungan modal dan semakin menjauhkan dirinya dari rakyat.

Belum lagi, pesta demokrasi pada Pemilu Legislatif yang lalu jelas-jelas memperlihatkan bobroknya sistem demokrasi di Negara ini. Demokrasi yang dijalankan saat ini terbukti hanya digunakan untuk mengakomodasi kepentingan elit semata karena demokrai yang berjalan sesungguhnya adalah demokrasi prosedural yang tidak berpijak kepada kepentingan rakyat banyak dan lebih ditujukan untuk memberikan keuntungan bagi segelintir orang (baca: oligarkisme negara). Persekongkolan negara dengan modal (koorporatisme negara) hanya akan memperpanjang cerita penindasan—penghisapan di Negeri ini.

Tragisnya, tanpa ada rasa malu, justru semua kandidat CAPRES dan CAWAPRES yang akan bermain pada Pilpers 2009 ini, masih berani mengatakan bahwa mereka anti terhadap neoliberalisme. Di tengah situasi yang anti rakyat dan ahistoris seperti ini, banyak kaum pergerakan justru tertidur dan mengalami degradasi yang cukup mengkhawatirkan. Bahkan tidak sedikit dari kaum pergerakan yang justru masuk dalam politik kekuasaan yang tidak berpijak pada kepentingan rakyat dan cita-cita pembebasan akan tetapi memakainya sebagai alat untuk masuk dalam jajaran kekuasaan. Hal ini jelas merupakan preseden buruk bagi perjuangan demokrasi rakyat. Sebagai golongan pembebas yang tidak mau terjebak dalam kondisi macam ini, Posisi Pergerekan dituntut untuk meneguhkan kepemimpinannya dalam perjuangan pembebasan hak-hak dasar rakyat yang selama ini menjadi korban dari bobroknya sistem di Republik ini.

CARA MEMBURU BERITA


PENGANTAR

Globalisasi di segala bidang membuat dunia ini semakin kecil. Sebelum teknologi komunikasi dan informasi berkembang canggih seperti sekarang, jarak menjadi kendala seseorang untuk menjalin komunikasi dengan orang lain. Dunia seolah-olah tersekat oleh batas-batas negara, berita-berita yang terjadi di suatu negara hanya dapat dinikmati oleh masyarakat di negara tersebut, baik melalui media cetak maupun elektronik (TV dan radio).

Seiring dengan berkembangnya peradaban manusia itu sendiri dan tuntutan masyarakat terhadap kebutuhan mereka, maka perubahan diberbagai bidang baik secara evolusiner maupun revolusioner tak dapat dihindari. Akibatnya seperti sekarang, kini semua telah berubah.Teknologi informasi dan komunikasi yang berhasil dikembangkan oleh pakar teknologi di negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Inggris dan Perancis memudahkan masyarakat untuk mengakses segala informasi yang mereka perlukan melalui internet, serta berhubungan dengan sahabat, keluarga atau teman yang jaraknya jauh melalui komunikasi mengunakan media telepon kabel, handphone atau melalui e-mail menggunakan media internet.

Inilah fenomena yang terjadi dalam masyarakat kita sakarang. Teknologi komunikasi dan Informasi yang canggih nampaknya menjadi agama baru mereka. Mereka rela berjam-jam mengakses informasi melalui internet, menjelejahi dunia maya yang sebelumnya tidak mereka bayangkan. Orang semakin mudah menikmati hiburan, maupun peristiwa yang terjadi di negara lain melalui televisi. Masyarakat akan semakin sadar informasi bahkan menganggap informasi sebagai kebutuhan pokok (basic need). Gagap informasi,
khususnya dikalangan akademisi, cendekiawan kampus, maupun mahasiswa dianggap merupakan hal yang memalukan dan tidak lazim.

Dalam konteks transformasi informasi di tanah air, menunjukkan bahwa kompetisi media massa semakin kompetitif. Inilah dampak globalisasi informasi dan teknologi tersebut. Gejala ini muncul sejak rezim Soeharto tumbang oleh gerakan mahasiswa pada 21 Mei 1998 lalu.

KEBEBASAN MEMPEROLEH INFORMASI

Dalam konstitusi kita, setiap warga negara dijamin kebebasannya untuk berserikat, berkumpul, mengeluarkan pendapat secara lesan maupun tulisan. Dalam pasal 19 Declaration of Human Rights (Freedom of communication, Freedom of information) tahun 1949 yang dikeluarkan PBB juga disebutkan bahwa kebebasan untuk mengeluarkan pendapat dan memperoleh informasi merupakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Tidak ada seorangpun yang mampu menghalangi atau melarang seseorang/lembaga untuk berbicara dan mendapatkan informasi. Termasuk negara (state) juga tak punya hak untuk melarangnya. Meski demikian, ada saja pihak –pihak yang sengaja secara sistematis berusaha membungkam masyarakat agar mereka tuli (sengaja ditulikan) oleh informasi yang disajikan pers. ‘Peperangan’ antara pihak-pihak yang tidak menginginkan kebebasan bersuara dengan pihak-pihak yang menginginkan kebebasan nampaknya akan terus abadi hingga akhir jaman.

Apa yang disampaikan oleh Sekjen PBB Kofi Annan menguatkan sinyalemen terhadap pihak-pihak yang ingin membungkam kebebasan bersuara ini. Berikut kutipan pernyataan Kofi Annan dalam seminar bertema “The Media and Government in Search of Solutions” yang diselenggarakan pada 23 –24 Maret di Jakarta.
“Akan selalu ada pihak-pihak yang mempertanyakan nilai kebebasan berbicara di dalam masyarakat mereka sendiri. Yakni mereka yang memberikan alasan bahwa kebebasan berbicara itu akan mengganggu stabilitas dan membahayakan kemajuan. Mereka yang menganggap kebebasan berbicara sebagai bahaya dari luar dan bukannnya suatu pengungkapan setiap orang untuk mendapatkan kemerdekaan.

Yang selalu jelas tampak dalam argumen di atas ini adalah bahwa anggapan tersebut tidak pernah dianut oleh rakyat itu sendiri. Melainkan oleh pemerintahan dan sekali lagi saya tekankan oleh pemerintahan, tidak pernah alasan itu dikemukakan oleh mereka yang lemah melainkan oleh merka yang berkuasa. Tidak pernah disuarakan oleh mereka yang tidak pernah bersuara tetapi oleh mereka yang suara lantangnya bisa didengar.

Sebaiknya kita akhiri perdebatan ini untuk selama-lamanya atas satu-satunya ujian yang sudah terbukti yakni pilihan bagi setiap orang untuk mengetahui lebih banyak atau lebih sedikit, untuk didengar atau didiamkan saja. Untuk berdiri tegar atau untuk bertekuk lutut.” (Media dan Pemerintah : Mencari Jalan Keluar, 1999, Kantor Perwakilan Unesco Jakarta)

BERBURU INFORMASI YANG BENAR

Menjadi tugas setiap wartawan maupun pers mahasiswa untuk mencari berita yang benar. Berita yang benar adalah informasi yang sesuai dengan realitas yang terjadi. Tidak direkayasa atau dimanipulasi untuk kepentingan lembaga pers itu sendiri, wartawan, nara sumber atau pihak-pihak tertentu. Menyajikan berita yang penuh rekayasa jauh dari kebenaran berarti membohongi masyarakat.

Jika hal buruk ini dilakukan oleh insan pers yang sering dianggap sebagai agen perubahan, maka mereka ikut berdosa melakukan pembodohan terhadap masyarakat. Ingatlah bahwa pers merupakan sub sistem dari sistem kemasyarakat, pers tidak bisa hidup sendiri tanpa masyarakat. Ada sebuah pendapat menarik bahwa pers merupakan potret masyarakat. Jika pers buruk, membohongi masyarakat maka realitasnya yang terjadi dalam masyarakat akan demikian juga. Sebaliknya jika masyarakat baik maka pers pun juga akan baik.

Kebenaran (truth) hendaknya dijadikan pedoman bagi pelaku pers nasional maupun pers mahasiswa untuk mencari berita dan menyajikan berita yang benar. Meskipun dalam realitasnya banyak pelaku pers yang memperjualbelikan kebenaran berita dengan imbalan materi. Memang hal ini tak dapat dihindari karena orientasi pers telah berubah dari pers perjuangan yang memperjuangkan idelalismenya untuk kemerdekaan negara menjadi pers industri. Idealisme pers menjadi luntur karena yang diperjuangkan bukan semata-mata kepentingan rakyat namun kepentingan pemilik modal, kepentingan diri sendiri dan sumber-sumber berita yang suka melakukan konspirasi dengan wartawan untuk memanipulasi kebenaran.

Berita yang benar juga diartikan sebagai berita yang obyektif, tidak memihak. Dalam penulisan berita dikenal istilah cover both side artinyanya penulisan berita berimbang (obyektif) denga mengakomodasi kedua belah pihak yang terlibat dalam berita (peristiwa) itu. Memang sulit untuk menyajikan berita yang benar, obyektif dan cover both side, karena memerlukan banyak waktu dan energi. Misalnya, sulit menghubungi sumber berita dari pihak tergugat (dalam kasus hukum) atau pihak yang disinyalir/diduga melakukan kesalahan. Tapi itulah harga mahal yang harus ditebus oleh setiap insan pers jika ingin menyajikan berita yang benar kepada masyarakatnya.

Salah satu fungsi pers adalah mendidik masyarakat. Agar masyarakatnya pandai, rakyar cerdas, kritis maka berita yang disajikan juga harus bersifat mendidik, tidak membohongi. Didiklah rakyat dengan berita yang benar dan informasi yang benar.

Sudah banyak kasus yang dialami oleh wartawan dalam menegakkan kebenaran ini, misalnya Udin (wartawan Bernas) dianiaya hingga mengakibatkan kematiannya karena menulis berita yang kritis di Bantul (Kasus Penyunatan Dana IDT, Kasus Bupati 1 Milyar dan Rencana Pembuatan Kawasan Wisata ‘elit’ di Pantai Parangtritis), Di Aceh, Ibrahim Ahmad wartawan Serambi Indonesia pada 29 Juli 2000 dianiaya oleh seorang anggota Brimob saat meliput pemulangan 5.214 pengungsi Kecamatan Cok Girek (Aceh), di Jambi, Nurdin wartawan Serambi Indonesia dan Nawawi, juru kamera RCTI j pada 6 Mei 2000 jadi korban kekerasan polisi saat meliput aksi 500 mahasiswa yang menamakan Komite Mahasiswa Anti Kekerasan. Di Jakarta pada 15 Februari 2001, Yayus Yuswopriyanto wartawan foto detik.com dipukuli polisi dari Polsek Menteng saat meliput aksi demonstrasi sekitar 100 orang yang tergabung dalam kelompok Perjuangan Kedaulatan Rakyat dan Kesatuan di depan gedung perwakilan PBB, Jalan Tamrin. (Sumber : 100 Serangan Terhadap Wartawan, 2000 The Southeast Asian Press Aliance- Jakarta)

BAGAIMANA CARA MEMBURU SUMBER BERITA

Sebelum memburu berita, ada beberapa hal yang perlu ditanamkan kepada para jurnalis, pertama punya daya kritis yang tinggi, kedua belajarlah untuk menajamkan daya ingat anda, gairahkan inisiatif anda dan jadilah anjing penjaga (watcdog) yang baik. Jurnalis perlu memiliki sikap tidak mudah menyerah, jangan mudah percaya dengan omongan orang lain tetapi buktikan dan ujilah omongan itu. Sikap suka melakukan check and rechecking adalah sikap yang baik yang perlu dipertahankan. Jika anda belum yakin tentang suatu kebenaran berita maka jangan ragu-ragu untuk melakukan rechecking terhadap berita atau masalah itu.

Daya ingat yang tajam akan memperkecil anda melakukan kesalahan dalam menuliskan kutipan omongan nara sumber, atau melakuka follow-up terhadap suatu masalah. Inisitif yang kering akan terasa menjemukan, pembaca suka dengan hal-hal yang baru, berita yang ditulis dengan gaya penulisan yang baku terasa kering. Cobalah dengan menggunakan gaya penulisan yang baru, tidak menggurui, mendikte atau mereka-reka. Pers mengemban fungsi sebagai kontrol sosial yang sering diterjemahkan dengan istilah watchdog (anjing penjaga). Artinya sebagai lembaga kontrol sosial maka, suarakan berita-berita yang obyektif dan kritis. Kritis dan obyektif tidak berarti selalu membela pada penguasa atau rakyat, tetapi menuliskan realitas sosial secara obyektif dan korektif.

Sumber berita atau nara sumber adalah orang/lembaga/institusi yang menjadi sumber informasi atau sasaran pemberitaan reporter. Atau setidaknya dia terlibat di dalam mata rantai pemberitaan. Berita tanpa sumber, tidak bisa dipertanggungwabkan kebenarannya. Dan bisa jadi belum bisa disebut berita, karena informasi yang tidak jelas lebih dikenal dengan desas-desus, isu atau kabar burung. Untuk menjelaskan bahwa informasi itu reporter/jurnalis mencari sumber berita.

Jurnalis lazimnya menyamakan sumber berita dengan orang/instansi/lembaga yang lerlibat atau menjadi sasaran pemberitaan. Sebuah berita pastilah ada sumbernya. Perhatikan lberita yang dimuat di Harian Kompas, edisi Rabu 18 April 2001.

Operasi Preman Dianggarkan Rp 12 Milyar
Jakarta, Kompas
Memasuki hari kedua operasi pemberantasan preman di Jakarta, Selasa (17/4), belum ada langkah konkret, baik konsep maupun pelaksanaannya. Bahkan Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta melalui Pusat Pengendalian Ketegangan Sosial (Pusdalgangos) DKI dan Tim Gabungan Opreasi Preman tidak mampu menyajikan hasil operasi preman yang diusulkan berbiaya Rp 12 Milyar.
“Sampai siang ini belum ada laporan dari Pusdalgangos mengenai hasil operasi kemarin (Senin),” kata Kepala Biro Humas Pemda DKI, Muhayat, Selasa siang.
Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Irjen (Pol) Mulyono Sulaiman juga mengatakan, pihak kepolisian belum melakukan penangkapan preman pada pekan ini. …

Mencermati berita di atas, siapa sumber beritanya? Dari potongan berita itu, sumber berita jelas yakni Kepala Biro Humas Pemda DKI, Muhayat dan Kapolda Metro Jaya Irjen (Pol) Mulyono Sulaiman.

Yang menarik bukan membahas sumber berita di atas tetapi, bagaimana cara memburu sumber berita sehingga sukses dan berita yang kita tulis menjadi lebih lengkap dan komprehensif?

Sebelum memburu sumber berita, tentukan dulu angle berita yang hendak anda tulis, bikin catatan kecil (seperti TOR liputan) untuk menentukan materi wawancara, item-item yang hendak ditanyakan, siapa sumber berita yang tepat untuk diwawancarai, tempat sumber berita biasa ada dan siapa cadangan jika sumber berita yang inti gagal diwawancarai.

Catatan kecil semacam TOR liputan ini sangat membantu jurnalis saat turun ke lapangan mengejar berita. Kenapa penting? Karena memudahkan pekerjaan jurnalis. Ia tidak bingung mencari atau menemui sumber berita, tidak gugup saat wawancara dengan sumber berita karena tidak menyiapkan bahan wawancara dan mempermudah menuliskan berita karena sudah menyiapkan angle (sudut penulisan berita).

Jika langkah ini anda abaikan anda akan semakin kesulitan untuk mencari sumber berita yang tepat untuk bahan berita anda.

Ada baiknya anda mengenali dulu sumber berita yang hendak anda wawancarai. Jangan sampai saat sumber berita itu di depan anda, anda cuek karena tidak tahu bahwa itu sumber berita yang hendak anda cari. Jika ini terjadi akan memalukan dan anda di cap wartawan yang kuper karena memang kurang pergaulan. Jika hal buruk ini anda teruskan, jangan harap menjadi wartawan yang handal dan punya karier jurnalistik yang bagus. Atau mendingan anda ke luar dari profesi anda karena tidak cocok anda berada pada lingkungan jurnalis yang seharusnya bekerja profesional.

Jika anda terpaksa tidak bisa menemui sumber berita secara langsung, karena mungkin sumber berita yang anda buru tidak punya waktu untuk anda wawancarai. Kalau terpaksa terjadi seperti itu, buatlah janji wawancara dengan dia melalui telpon atau datang langsung. Tepat dengan janji yang anda buat, karena begitu anda terlambat atau tidak datang anda tidak akan dipercaya lagi oleh sumber berita. Sekali lagi susunlah pertanyaan yang hendak anda ajukan kepada sumber berita, pelajari lagi dan kondisikan anda menguasai bahan yang hendak anda tanyakan. Kalau tidak tahu atau kurang paham dengan penjelasan sumber berita, jangan segan bertanya. Ini agar saat anda menuliskan berita, tidak salah persepsi. Persiapkan peralatan wawancara seperti tape recorder, baterai, kaset rekam, pulpen dan buku catatan.

Jika anda telah mengenal sumber berita anda, bangunlah hubungan personal dengan baik, namun jangan terlalu dekat. Ingat jika terlalu dekat dengan sumber berita jika ada masalah yang menyangkut sumber berita anda atau lembaga sumber tersebut, anda tidak bisa menuliskan berita secara kritis.

Jangan mudah putus asa jika gagal menemui sumber berita. Bersemangatlah, misalnya jika sumber berita tidak punya waktu wawancara, cobalah merayu dengan bahasa yang baik. “Kalau tidak bisa wawancara di sini, boleh saya wawancara di mobil dinas Bapak, sambil menemani Bapak ke lokasi kebakaran?” Merayu dengan bahasa baik juga diperlukan untuk menarik hati sumber berita. Namun jika sumber menolak, jangan memaksa. Belajarlah dari pengalaman wartawan senior yang telah sukses mewawancarai sumber-sumber berita yang sulit ditembus oleh para jurnalis